Earthquake 2009

8 10 2009

Once again, Indonesia had to face severe test in the month of Ramadan 1430 AH, the exact date of September 02, 2009, an earthquake in the area of Tasikmalaya in West Java which claimed many victims.

Central location of the Earthquake:

imagestacker.inc.php

The earthquake victims were evacuated to local hospitals. The wild cry of families and children echoed in the treatment room.

Since Wednesday (2 / 9) to Thursday (3 / 9) was recorded there as much as 78 times of aftershocks near the quake epicenter area in Tasikmalaya 8.24 LS BT 107.32. Although many aftershocks occurred, would not be expected strength basis before the main earthquake Wednesday (2 / 9) and.

Data and Information Section Meteorology and Geofisikan (B MKG) stations in Bandung, explains that a subduction quake in southern Jabar be periodic between 115-50 years. Large earthquake in the south of Tasikmalaya last happened in 29 years ago, he said.

At that time, in 1974, an earthquake measuring 6.1 scale ritcher cause damage to 1430 homes and claimed the lives of ten people. 6.5 quake epicenter LS BT 105.3. At that time, had reported a tsunami in the region.

Six years later, an earthquake happens in the same area, but a slightly different epicenter (108.8 LS BT 8.25). 6.4 magnitude earthquake which was damaged SR 10 elementary buildings and the vibrations felt through to Bandung.

Based on the record BMKG, southern region of West Java, Tasikmalaya and Sukabumi in particular is the most common areas affected by the earthquake. Because, in the south of this area, specifically off the coast, there are two meetings subduction zone Indo-Australian plate and Eurasia.

3481192p

Data Operations Control Center’s National Disaster Management Agency said as many as 18,128 homes a mess. Details of housing units 8885 and 9393 severely damaged houses slightly damaged. Damage in Ciamis District of damaged units 5085 and 6211 slightly damaged units.

The number of dead from the earthquake that struck at 14:55 pm Wednesday that as many as 46 people. Details 10 people in Cianjur regency, 9 people in Garut regency, 2 people in Sukabumi District, 9 people in Tasikmalaya District, 8 people in Bandung Regency, 1 person in West Bandung regency, 2 people in Bogor regency, and 4 people in Ciamis District.

Data injured earthquake measuring 7.3 on the Richter scale as many as 10 were seriously injured and 137 slight injuries. While the number of refugees as many as 450 people in Tasikmalaya district and 180 persons in the Kuningan District.

West Java Provincial Government held a meeting yesterday with the National Disaster Management Agency. The result was signed declaration as incident Tasikmalaya earthquake that need emergency treatment. Steps to be taken is to mobilize as many as 6 police helicopter unit to do a survey to the disaster site, the West Java government sent their mobile unit 20 rescue and logistics for distribution to Bandung, Garut, Cianjur and Tasikmalaya.

Earthquake statistic:

Magnitude

7.4

Date-Time

Wednesday, September 02, 2009 at 07:55:02 UTCWednesday, September 02, 2009 at 02:55:02 PM at epicenterTime of Earthquake in other Time Zones

Location

7.837°S, 107.263°E

Depth

62.8 km (39.0 miles)

Region

JAVA, INDONESIA

Distances

105 km (65 miles) SSW of Bandung, Java, Indonesia110 km (70 miles) SSE of Sukabumi, Java, Indonesia

125 km (75 miles) WSW of Tasikmalaya, Java, Indonesia

195 km (120 miles) SSE of JAKARTA, Java, Indonesia

Location Uncertainty

horizontal +/- 10.3 km (6.4 miles); depth +/- 18.1 km (11.2 miles)

Parameters

NST= 49, Nph= 49, Dmin=359.7 km, Rmss=1.18 sec, Gp= 68°,M-type=teleseismic moment magnitude (Mw), Version=7

Source

USGS NEIC (WDCS-D)

Event ID

us2009lbat

Update News

2014092pAn earthquake measuring 7.6 on the Richter scale shook the region of West Sumatra. The earthquake damaged several homes and shopping centers.

“Many houses collapsed and severely damaged Plaza Andalas,” said Anton, residents of Padang, when talking with VIVAnews, Wednesday, September 30, 2009.Information from the Board of Climatology, Meteorology and Geophysics, SR 7.6 earthquake occurred at 17:16:09 pm, Wednesday, September 30, 2009.

The earthquake occurred at 0.84 south latitude location and 99.65 East Longitude. The epicenter was in the 57 kilometers southwest of Pariaman, West Sumatra.

This Warning Center said, if a tsunami happens, it will reach a Padang, West Sumatra, in just a few minutes after the earthquake occurred at 17:17 Western Indonesia Time

PADANG – Body earthquake recorders from the United States (U.S.), the USGS recorded an earthquake in Sumatra strength of 7.9 on the Richter scale. Different approximately 0.3 on the Richter scale with the earthquake in Indonesia recorder, which recorded 7.6 earthquake SR.

In addition to the power of the earthquake, the USGS said on Wednesday (30/9/2009) also recorded the quake-related sources. BMKG noted epicenter in Padang Pariaman, West Sumatra, while the USGS recorded in South Sumatra (Palembang) with a depth of 85 kilometers.

The earthquake was also felt to Pekanbaru, Riau, and Sibolga, North Sumatra. Even the earthquake was also felt to neighboring countries, Kuala Lumpur, Malaysia, Singapura and Fhilipina.





Batuan Metamorf

8 10 2009

Batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk sebagai akibat dari proses metamorfosa pada batuan yang sudah ada karena perubahan temperatur(T), tekanan (P), atau Temperatur (T) dan Tekanan (P) secara bersamaan. Batuan metamorf diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) kelas atas dasar derajat metamorfosanya, yaitu:

  • Batuan metamorfosa derajat rendah;
  • Batuan metamorfosa derjat menengah, dan
  • Batuan metamorf derajat tinggi.

Penamaan Batuan Metamorf

Penamaan batuan metamorf didasarkan atas tekstur, struktur dan komposisi mineral yang menyusun batuan tersebut. Adapun tekstur batuan metamorf terdiri dari: Bentuk butir granoblatik (terdiri dari mineral-mineral granular), lepidoblastik (terdiri dari mineral-mineral pipih), dan nematoblastik (terdiri dari mineral-mineral orthorombik), sedangkan teksturnya ada foliasi, dan non foliasi.

Tekstur foliasi (tekstur batuan metamorf yang memperlihatkan adanya orientasi dari mineralnya). Struktur batuan metamorf dapat terdiri dari struktur schistose (struktur batuan metamorf yang memperlihatkan perselingan orientasi mineral pipih dan mineral granular / nematoblastik), gneistose (struktur batuan metamorf yang memperlihatkan hubungan dari orientasi mineral pipih dan mineral nematoblastik/granular yang saling berpotongan/tidak menerus), hornfelsic (struktur batuan metamorf yang hanya tidak memperlihatkan foliasi).

Derajat Metamorfosa

Derajat metamorfosa adalah suatu tingkatan metamorfosa yang didasarkan atas temperatur (T) atau tekanan (P) atau keduanya T dan P. Tabel dibawah ini adalah tingkatan batuan metamorf berdasarkan derajat metamorfosa:

metamorf1

Tabel dibawah ini adalah nama-nama batuan metamorf, tekstur batuan, derajat metamorfosa, serta batuan asal.

metamorf2

metamorf





MINYAK BUMI

8 10 2009

Bagaimana terjadinya minyak dan gas bumi ?

Ada tiga faktor utama dalam pembentukan minyak dan/atau gas bumi, yaitu:

  1. Ada “bebatuan asal” (source rock) yang secara geologis memungkinkan terjadinya pembentukan minyak dan gas bumi.
  2. Adanya perpindahan (migrasi) hidrokarbon dari bebatuan asal menuju ke “bebatuan reservoir” (reservoir rock), umumnya sandstone atau limestone yang berpori-pori (porous) dan ukurannya cukup untuk menampung hidrokarbon tersebut.
  3. Adanya jebakan (entrapment) geologis. Struktur geologis kulit bumi yang tidak teratur bentuknya, akibat pergerakan dari bumi sendiri (misalnya gempa bumi dan erupsi gunung api) dan erosi oleh air dan angin secara terus menerus, dapat menciptakan suatu “ruangan” bawah tanah yang menjadi jebakan hidrokarbon. Kalau jebakan ini dilingkupi oleh lapisan yang impermeable, maka hidrokarbon tadi akan diam di tempat dan tidak bisa bergerak kemana-mana lagi.

Temperatur bawah tanah, yang semakin dalam semakin tinggi, merupakan faktor penting lainnya dalam pembentukan hidrokarbon. Hidrokarbon jarang terbentuk pada temperatur kurang dari 65oC dan umumnya terurai pada suhu di atas 260oC. Hidrokarbon kebanyakan ditemukan pada suhu moderat, dari 107 ke 177oC.

Apa saja komponen-komponen pembentuk minyak bumi ?

Minyak bumi merupakan campuran rumit dari ratusan rantai hidrokarbon, yang umumnya tersusun atas 85% karbon (C) dan 15% hidrogen (H). Selain itu, juga terdapat bahan organik dalam jumlah kecil dan mengandung oksigen (O), sulfur (S) atau nitrogen (N).

Apakah ada perbedaan dari jenis-jenis minyak bumi ?

Ada 4 macam yang digolongkan menurut umur dan letak kedalamannya, yaitu: young-shallow, old-shallow, young-deep dan old-deep.Minyak bumi young-shallow biasanya bersifat masam (sour), mengandung banyak bahan aromatik, sangat kental dan kandungan sulfurnya tinggi.Minyak old-shallow biasanya kurang kental, titik didih yang lebih rendah, dan rantai paraffin yang lebih pendek. Old-deep membutuhkan waktu yang paling lama untuk pemrosesan, titik didihnya paling rendah dan juga viskositasnya paling encer. Sulfur yang terkandung dapat teruraikan menjadi H2S yang dapat lepas, sehingga old-deep adalah minyak mentah yang dikatakan paling “sweet”. Minyak semacam inilah yang paling diinginkan karena dapat menghasilkan bensin (gasoline) yang paling banyak.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membentuk minyak bumi ?

Sekitar 30-juta tahun di pertengahan jaman Cretaceous, pada akhir jaman dinosaurus, lebih dari 50% dari cadangan minyak dunia yang sudah diketahui terbentuk. Cadangan lainnya bahkan diperkirakan lebih tua lagi. Dari sebuah fosil yang diketemukan bersamaan dengan minyak bumi dari jaman Cambrian, diperkirakan umurnya sekitar 544 sampai 505-juta tahun yang lalu.

Para geologis umumnya sependapat bahwa minyak bumi terbentuk selama jutaan tahun dari organisme, tumbuhan dan hewan, berukuran sangat kecil yang hidup di lautan purba. Begitu organisme laut ini mati, badannya terkubur di dasar lautan lalu tertimbun pasir dan lumpur, membentuk lapisan yang kaya zat organik yang akhirnya akan menjadi batuan endapan (sedimentary rock). Proses ini berulang terus, satu lapisan menutup lapisan sebelumnya. Lalu selama jutaan tahun berikutnya, lautan di bumi ada yang menyusut atau berpindah tempat. Deposit yang membentuk batuan endapan umumnya tidak cukup mengandung oksigen untuk mendekomposisi material organik tadi secara komplit. Bakteri mengurai zat ini, molekul demi molekul, menjadi material yang kaya hidrogen dan karbon. Tekanan dan temperatur yang semakin tinggi dari lapisan bebatuan di atasnya kemudian mendistilasi sisa-sisa bahan organik, lalu pelan-pelan mengubahnya menjadi minyak bumi dan gas alam. Bebatuan yang mengandung minyak bumi tertua diketahui berumur lebih dari 600-juta tahun. Yang paling muda berumur sekitar 1-juta tahun. Secara umum bebatuan dimana diketemukan minyak berumur antara 10-juta dan 270-juta tahun.

Bagaimana caranya menemukan minyak bumi ?

Ada berbagai macam cara: observasi geologi, survei gravitasi, survei magnetik, survei seismik, membor sumur uji, atau dengan educated guess dan faktor keberuntungan.

  • Survei gravitasi: metode ini mengukur variasi medan gravitasi bumi yang disebabkan perbedaan densitas material di struktur geologi kulit bumi.
  • Survei magnetik: metode ini mengukur variasi medan magnetik bumi yang disebabkan perbedaan properti magnetik dari bebatuan di bawah permukaan. Survei magnetik dan gravitasi biasanya dilakukan di wilayah yang luas seperti misalnya suatu cekungan (basin).
  • Survei seismik menggunakan gelombang kejut (shock-wave) buatan yang diarahkan untuk melalui bebatuan menuju target reservoir dan daerah sekitarnya. Oleh berbagai lapisan material di bawah tanah, gelombang kejut ini akan dipantulkan ke permukaan dan ditangkap oleh alat receivers sebagai pulsa tekanan (oleh hydrophone di daerah perairan) atau sebagai percepatan (oleh geophone di darat). Sinyal pantulan ini lalu diproses secara digital menjadi sebuah peta akustik bawah permukaan untuk kemudian dapat diinterpretasikan.

Aplikasi metode seismik:

  1. Tahap eksplorasi: untuk menentukan struktur dan stratigrafi endapan dimana sumur nanti akan digali.
  2. Tahap penilaian dan pengembangan: untuk mengestimasi volume cadangan hidrokarbon dan untuk menyusun rencana pengembangan yang paling baik.
  3. Pada fase produksi: untuk memonitor kondisi reservoir, seperti menganalisis kontak antar fluida reservoir (gas-minyak-air), distribusi fluida dan perubahan tekanan reservoir.

Setelah kita yakin telah menemukan minyak, apa selanjutnya ?
Setelah mengevaluasi reservoir, selanjutnya tahap mengembangkan reservoir. Yang pertama dilakukan adalah membangun sumur (well-construction) meliputi pemboran (drilling), memasang tubular sumur (casing) dan penyemenan (cementing). Lalu proses completion untuk membuat sumur siap digunakan. Proses ini meliputi perforasi yaitu pelubangan dinding sumur; pemasangan seluruh pipa-pipa dan katup produksi beserta asesorinya untuk mengalirkan minyak dan gas ke permukaan; pemasangan kepala sumur (wellhead atau chrismast tree) di permukaan; pemasangan berbagai peralatan keselamatan, pemasangan pompa kalau diperlukan, dsb. Jika dibutuhkan, metode stimulasi juga dilakukan dalam fase ini. Selanjutnya well-evaluation untuk mengevaluasi kondisi sumur dan formasi di dalam sumur. Teknik yang paling umum dinamakan logging yang dapat dilakukan pada saat sumur masih dibor ataupun sumurnya sudah jadi.

Ada berapa macam jenis sumur ?

Di dunia perminyakan umumnya dikenal tiga macam jenis sumur:

  1. Sumur eksplorasi (sering disebut juga wildcat) yaitu sumur yang dibor untuk mentukan apakah terdapat minyak atau gas di suatu tempat yang sama sekali baru.
  2. Jika sumur eksplorasi menemukan minyak atau gas, maka beberapa sumur konfirmasi (confirmation well) akan dibor di beberapa tempat yang berbeda di sekitarnya untuk memastikan apakah kandungan hidrokarbonnya cukup untuk dikembangkan.
  3. Sumur pengembangan (development well) adalah sumur yang dibor di suatu lapangan minyak yang telah eksis. Tujuannya untuk mengambil hidrokarbon semaksimal mungkin dari lapangan tersebut.

Istilah persumuran lainnya:

  • Sumur produksi: sumur yang menghasilkan hidrokarbon, baik minyak, gas ataupun keduanya. Aliran fluida dari bawah ke atas.
  • Sumur injeksi: sumur untuk menginjeksikan fluida tertentu ke dalam formasi (lihat Enhanced Oil Recovery di bagian akhir). Aliran fluida dari atas ke bawah.
  • Sumur vertikal: sumur yang bentuknya lurus dan vertikal.
  • Sumur berarah (deviated well, directional well): sumur yang bentuk geometrinya tidak lurus vertikal, bisa berbentuk huruf S, J atau L.
  • Sumur horisontal: sumur dimana ada bagiannya yang berbentuk horisontal. Merupakan bagian dari sumur berarah.

Apakah rig ? Apa saja jenis-jenisnya ?

Rig adalah serangkaian peralatan khusus yang digunakan untuk membor sumur atau mengakses sumur. Ciri utama rig adalah adanya menara yang terbuat dari baja yang digunakan untuk menaik-turunkan pipa-pipa tubular sumur.

Umumnya, rig dikategorikan menjadi dua macam menurut tempat beroperasinya:

  1. Rig darat (land-rig): beroperasi di darat.
  2. Rig laut (offshore-rig): beroperasi di atas permukaan air (laut, sungai, rawa-rawa, danau atau delta sungai).

Ada bermacam-macam offshore-rig yang digolongkan berdasarkan kedalaman air:

  1. Swamp barge: kedalaman air maksimal 7m saja. Sangat umum dipakai di daerah rawa-rawa atau delta sungai.
  2. Tender barge: mirip swamp barge tetapi di pakai di perairan yang lebih dalam.
  3. Jackup rig: platform yang dapat mengapung dan mempunyai tiga atau empat “kaki” yang dapat dinaik-turunkan. Untuk dapat dioperasikan, semua kakinya harus diturunkan sampai menginjak dasar laut. Terus badan rig akan diangkat sampai di atas permukaan air sehingga bentuknya menjadi semacam platform tetap. Untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, semua kakinya haruslah dinaikan terlebih dahulu sehingga badan rig mengapung di atas permukaan air. Lalu rig ini ditarik menggunakan beberapa kapal tarik ke lokasi yang dituju. Kedalaman operasi rig jackup adalah dari 5m sampai 200m.
  4. Drilling jacket: platform struktur baja, umumnya berukuran kecil dan cocok dipakai di laut tenang dan dangkal. Sering dikombinasikan dengan rig jackup atau tender barge.
  5. Semi-submersible rig: sering hanya disebut “semis” merupakan rig jenis mengapung. Rig ini “diikat” ke dasar laut menggunakan tali mooring dan jangkar agar posisinya tetap di permukaan. Dengan menggunakan thruster, yaitu semacam baling-baling di sekelilingnya, rig semis mampu mengatur posisinya secara dinamis. Rig semis sering digunakan jika lautnya terlalu dalam untuk rig jackup. Karena karakternya yang sangat stabil, rig ini juga popular dipakai di daerah laut berombak besar dan bercuaca buruk.
  6. Drill ship: prinsipnya menaruh rig di atas sebuah kapal laut. Sangat cocok dipakai di daerah laut dalam. Posisi kapal dikontrol oleh sistem thruster berpengendali komputer. Dapat bergerak sendiri dan daya muatnya yang paling banyak membuatnya sering dipakai di daerah terpencil atau jauh dari darat.

Dari fungsinya, rig dapat digolongkan menjadi dua macam:

  1. Drilling rig: rig yang dipakai untuk membor sumur, baik sumur baru, cabang sumur baru maupun memperdalam sumur lama.
  2. Workover rig: fungsinya untuk melakukan sesuatu terhadap sumur yang telah ada, misalnya untuk perawatan, perbaikan, penutupan, dsb.

Sumber : http://www.teknikmetalurgiunjani.com

minyak_bumi1





Refraction Seimology

8 10 2009

Refraction Seismology - A method that maps geologic structure using the travel times of head waves. Head waves are elastic waves that enter a high-velocity medium (refractor) near the critical angle and travel in the high-velocity medium nearly parallel to the refractor surface before returning to the surface of the Earth. The objective in refraction surveys is to measure the arrival times of head waves as a function of source-receiver distance so that the depth to the refractors in which they traveled can be determined.

Materi ini dapat di download dengan meng-klik  Materi Kuliah

Source : http://galitzin.mines.edu





Perbandingan Seismik Refraksi dan Seismik Refleksi

8 10 2009

Pendahuluan

Metode seismik merupakan salah satu bagian dari metode geofisika eksplorasi yang dikelompokkan dalam metode geofisika aktif, dimana pengukuran dilakukan dengan menggunakan ‘sumber’ seismik buatan misalnya palu, ledakan, dll. Setelah diberikan gangguan (sumber seismik), terjadi gerakan gelombang di dalam tanah/batuan yang memenuhi hukum-hukum elastisitas ke segala arah dan mengalami pemantulan ataupun pembiasan akibat munculnya perbedaan kecepatan. Kemudian, pada suatu jarak tertentu, gerakan partikel tersebut dapat di rekam sebagai fungsi waktu. Berdasar data rekaman inilah dapat ‘diperkirakan’ bentuk lapisan/struktur di dalam tanah.

Eksperimen seismik aktif pertama kali dilakukan pada tahun 1845 oleh Robert Mallet, yang oleh kebanyakan orang dikenal sebagai bapak seismologi instrumentasi. Mallet mengukur waktu transmisi gelombang seismik, yang dikenal sebagai gelombang permukaan, yang dibangkitkan oleh sebuah ledakan. Mallet meletakkan sebuah wadah kecil berisi merkuri pada beberapa jarak dari sumber ledakan dan mencatat waktu yang diperlukan oleh merkuri untuk be-riak. Pada tahun 1909, Andrija Mohorovicic menggunakan waktu jalar dari sumber gempa bumi untuk eksperimennya dan menemukan keberadaan bidang batas antara mantel dan kerak bumi yang sekarang disebut sebagai Moho.

Pemakaian awal observasi seismik untuk eksplorasi minyak dan mineral dimulai pada tahun 1920an. Teknik seismik refraksi digunakan secara intemsif di Iran untuk membatasi struktur yang mengandung minyak. Tetapi, sekarang seismik refleksi merupakan metode terbaik yang digunakan di dalam eksplorasi minyak bumi. Metode ini pertama kali didemonstrasikan di Oklahoma pada tahun 1921.

refraksi

refleksiSeismik refraksi dihitung berdasarkan waktu jalar gelombang pada tanah/batuan dari posisi sumber ke penerima pada berbagai jarak tertentu. Pada metode ini, gelombang yang terjadi setelah gangguan pertama (first break) diabaikan, sehingga sebenarnya hanya data first break saja yang dibutuhkan. Parameter jarak (offset) dan waktu jalar dihubungkan oleh cepat rambat gelombang dalam medium. Kecepatan tersebut dikontrol oleh sekelompok konstanta fisis yang ada di dalam material dan dikenal sebagai parameter elastisitas batuan.

Sedangkan dalam seismik refleksi, analisis dikonsentrasikan pada energi yang diterima setelah getaran awal diterapkan. Secara umum, sinyal yang dicari adalah gelombang-gelombang yang terpantulkan dari semua interface antar lapisan di bawah permukaan. Analisis yang dipergunakan dapat disamakan dengan ‘echo sounding’ pada teknologi bawah air, kapal, dan sistem radar. Informasi tentang medium juga dapat diekstrak dari bentuk dan amplitudo gelombang refleksi yang direkam. Struktur bawah permukaan dapat cukup kompleks, tetapi analisis yang dilakukan masih sama dengan seismik refraksi, yaitu analisis berdasar kontras parameter elastisitas medium.

Perbandingan Seismik Refraksi dan Refleksi

Keunggulan dan kelemahan metode seismik refraksi dan refleksi adalah sebagai berikut.

Seismik Refraksi Seismik Refleksi
Keunggulan Kelemahan Keunggulan kelemahan
Pengamatan refraksi membutuhkan lokasi sumber dan penerima yang kecil, sehingga relatif murah dalam pengambilan datanya Lokasi sumber dan penerima yang cukup lebar untuk memberikan citra bawah permukaan yang lebih baik, maka biaya akuisisi menjadi lebih mahal.
Prosesing refraksi relatif simpel dilakukan kecuali proses filtering untuk memperkuat sinyal first berak yang dibaca. Prosesing seismik refleksi memerluakn komputer yang lebih mahal, dan sistem data base yang jauh lebih handal.
Karena pengambilan data dan lokasi yang cukup kecil, maka pengembangan model untuk interpretasi tidak terlalu sulit dilakukan seperti metode geofisika lainnya. Karena banyaknya data yang direkam, pengetahuan terhadap database harus kuat, diperlukan juga beberapa asumsi tentang model yang kompleks dan interpretasi membutuhkan personal yang cukup ahli.
Dalam pengukuran yang regional , Seismik refraksi membutuhkan offset yang lebih lebar. Pengukuran seismik refleksi menggunakan offset yang lebih kecil
Seismik refraksi hanya bekerja jika kecepatan gelombang meningkat sebagai fungsi kedalaman. Seismik refleksi dapat bekerja bagaimanapun perubahan kecepatan sebagai fungsi kedalaman
Seismik refraksi biasanya diinterpretasikan dalam bentuk lapisan-lapisan. Masing-masing lapisan memiliki dip dan topografi. Seismik refleksi lebih mampu melihat struktur yang lebih kompleks
Seismik refraksi  hanya menggunakan waktu tiba sebagai fungsi jarak (offset) Seismik refleksi merekan dan menggunakan semua medan gelombang yang terekam.
Model yang dibuat didesain untuk menghasilkan waktu jalar teramati. Bawah permukaan dapat tergambar secara langsung dari data terukur

Berdasar perbedaan-perbedaan tersebut, teknik refleksi lebih mampu menghasilkan data pengamatan yang dapat diinterpretasikan (interpretable). Seperti telah dinyatakan sebelumnya, bagaimanapun juga teknik refleksi membutuhkan biaya yang lebih besar. Biaya tersebut biasanya sangat signifikan secara ekonomis.

Karena survey refleksi membutuhkan biaya lebih besar daripada survey refraksi, maka sebagai konsekuensinya survey refraksi lebih senang digunakan untuk lingkup sempit/kecil. Misalnya digunakan dalam mendukung analisis lingkungan atau geologi teknik. Sedangkan survey refleksi digunakan dalam eksplorasi minyak bumi.

Sumber : http://i-elisa.ugm.ac.id





Optimalkan Pemanfaatan Geothermal di Indonesia !!!

8 10 2009

Kita semua tahu, bahwa Indonesia merupakan sebuah Negara yang memiliki jumlah penduduk yang tinggi (±220 juta jiwa) yang secara langsung penggunaan dan konsumsi energi listrik di Indonesia juga sangat tinggi. Konsumsi energi listrik yang tinggi otomatis menuntut produksi energi listrik harus dapat mengimbangi jumlah pemakaiannya (betul tidak??). Jika hal itu tidak dapat terlaksana dengan baik maka krisis energi pun akan terjadi seperti baru-baru ini (kayaknya sampai sekarang masih terjadi deh!!).

Untuk kita ketahui semua, sekarang ini, pembangkit-pembangkit listrik di Indonesia masih didominasi oleh pembangkit listrik yang bersumber pada bahan bakar fosil seperti minyak bumi, gas bumi dan Batu bara. Berdasarkan data yang saya dapatkan dari website PLN, pasti tau semuakan, bahwa PLN merupakan satu-satunya perusahaan negara yang mendistribusikan energi listrik ke masyarakat (sekarang ini selain PLN udah ada PJB (pembangkit jawa bali) yang mendistribusikan listrik khusus utk jawa dan bali (koreksi kalo salah)) , pemamfaatan bahan bakar fosil sebagai sumber energi listrik menempati posisi pertama selain pembangkit listrik tenaga air dan panas bumi yang masih kecil sekali termamfaatkan. Seperti pada gambar dibawah ini.

komposisi

Penggunaan bahan bakar fosil khususnya minyak bumi akan mempengaruhi produksi energi listrik jika harga minyak mentah naik, seperti beberapa bulan terakhir dimana harga minyak mentah dunia yang melambung tinggi sampai mencapai harga US$100 per barrel. Walaupun Indonesia merupakan Negara penghasil minyak bumi (± 1 juta barrel per hari) tetapi hasil minyak bumi yang diproduksi Indonesia tidak dapat menutupi keperluan dalam negeri seperti penyediaan minyak tanah saja untuk rakyat kecil masih kewalahan, sehingga sampai sekarang ini Indonesia masih mellakukan import bahan bakar minyak dari luar negeri, otomatis kenaikan harga minyak mentah dunia juga berpengaruh kepada ekonomi Indonesia.

Selain dipengaruhi oleh harga minyak mentah, baru-baru ini kita juga mendengar maraknya isu mengenai global warming (pemanasan global) dimana emisi gas karbon di udara telah melewati batas yang berimbas pada naiknya temperature bumi dan efek-efek lainnya yang sekarang ini dapat kita rasakan.

Salah satu penghasil gas karbon di udara adalah pembakaran dari bahan bakar fosil yang digunakan, baik untuk pembangkit listrik, untuk transportasi dan kebutuhan lainnya. Penggunaan bahan bakar fosil untuk pembangkit listrik di Indonesia merupakan salah satu penyumbang tertinggi emisi gas karbon di Indonesia setelah emisi gas karbon akibat kendaraan bermotor dan kebakaran hutan.





Gravitasi

8 10 2009

Introduction

Gravitation is the force of attraction one mass has for another. Gravity is the gravitational attraction of the Earth. According to Newton’s law of gravitation, the force increases with increasing mass. The force of the attraction also increases as we approach the centre of mass. If one geological body is denser than another, it will have a greater mass per unit volume and a greater gravitational attraction. Measurements of gravity yield little direct geological information, other than to represent the Earth’s oblate spheroidal shape, unless corrections are made to account for variations in the Earth’s shape and topography.

Theoretical gravity

As the Earth’s diameter is approximately 20 km smaller from pole to pole than through the equator, the force of gravity increases the closer we get to the poles. In addition, the Earth’s rotation results in a slightly smaller measured gravity at the equator than near the poles. In order to isolate the effect of lateral variations in density within the Earth, the bulk gravity effects of the Earth due to latitude must be removed.

The theoretical gravity is given in milligals (10-5m·s-2) by the International Gravity Formula :

gt = 978032.7(1.0+0.0053024 sin²(θ) – 0.0000058 sin²(2θ))

based on the 1980 Geodetic Reference System, where θ is the latitude in degrees of any point on the Earth. The effect of latitude is removed by subtracting the theoretical value of gravity from the observed values.

Free-air anomaly

To correct for variations in elevation, the vertical gradient of gravity (vertical rate of change of the force of gravity, 0.3086 mGal·m-1) is multiplied by the elevation of the station and the result is added, producing the free-air anomaly. The free-air gravity anomaly is given by the formula:

FA = go – gt + (δg/δz) h

where:
go = observed gravity (mGal)
gt = theoretical gravity (mGal)
δg/δz = vertical gradient of gravity (0.3086 mGal·m-1)
h = elevation above mean sea level (m).

Bouguer anomaly

To isolate the effects of lateral variations in density on gravity, it is also necessary to correct for the gravitational attraction of the slab of material between the observation point and the mean sea level. This is the Bouguer gravity anomaly, which is given for static land measurements by the formula

BA = go – gt + (δg/δz – 2πGρc) h

where:
go = observed gravity (mGal)
gt = theoretical gravity (mGal)
δg/δz = vertical gradient of gravity (0.3086 mGal·m-1)
G = gravitational constant (6.672 x 10-11·kg-1s-2 or 6.672 x 10-6·kg-1·mGal
ρc = density of crustal rock (kg·m-3)
h = elevation above mean sea level (m).

Isostatic correction

The principle of isostasy states that mass excesses, represented by topographic loads at the surface, are compensated by mass deficiencies at depth which are referred to as isostatic roots. The effect of these mass deficiencies are not accounted for in the Bouguer reduction and there exists an inverse correlation between broad Bouguer anomaly lows and positive topography. The isostatic correction removes the gravity effect of the isostatic roots. The depth of the roots can be estimated based on the Airy-Heiskanen model (Simpson et al., 1986).
gbr1

Land areas
The depth of the root is defined for land areas by the formula

d = ds + e (ρt / δρ)

where:
d = depth to the bottom of the root (m)
ds = the depth of compensation for sea level compensations (30 000m)
e = elevation (m)
ρt = density of the topographic load (2670 kg·m-3), and
δρ = density contrast between the root and underlying mantle material (600 kg·m-3).

Oceanic areas
For oceanic areas, a negative topographic load exists, since lower density water replaces higher density rock. The depth of the root over oceanic areas is defined by the formula:

d = ds – dw ((ρt – ρw) / δρ)

where:
dw = depth of water
ρw = the density of water (1030 kg·m-3)

Gravitational effect
Heiskanen (1953) defines the gravitational effect of a root at a point, O, by the formula

gc = G m ((a2/2R) + d cos α) / ( a2 + d2 – 2 ad sin α/2) 3/2

where:
gc = the gravitational effect (mGal)
m = mass deficiency of the root (kg)
R = radius (m) of the Earth
a = distance (m) between the observation point and the point at sea level above the root
d = the distance (m) between the centre of mass of the root and the point at sea level above the root
α = the angle between lines extending from the observation point and the point at sea level above the root through the centre of the Earth

Terrain corrections

In areas of rough terrain, a correction for the effect of nearby masses above (mountains) or mass deficiencies below (valleys) the gravity measurement point can be calculated and applied. The final Bouguer gravity anomaly reflects lateral variations in rock density.

Source : http://gsc.nrcan.gc.ca





Apa itu Geofisika ???

8 10 2009

Sebenarnya topik yang ingin ditulis pada kesempatan ini bukanlah mengenai ini(walaupun masih berhubungan dengan geofisika) tetapi saya berpikir kembali alangkah lebih baik sebelum menulis mengenai topik itu menuliskan garis besar, apa sih sebenarnya geofisika tersebut..

Geofisika, dari kata tersebut kita dapat mengetahui bahwa kata tersebut terdiri dari 2 kata yang digabung menjadi satu yaitu kata geo = bumi dan fisika yaitu ilmu yang melihat segala sesuatu dari sisi fisiknya.. Berarti kalo kita gabungan kedua kata tersebut maka pengertian geofisika adalah???? (ngacung!!!, hehehehehh). Yups, geofisika adalah cabang ilmu yang mempelajari all about bumi dari segi fisika-nya..

Sebelum dilanjutkan, bumi kita terdiri dari apa saja sih??? Secara garis besar bumi kita terdiri dari gas (atmosfer) yang sekarang ilmu yang mendalami itu adalah meteorology, cair dimana ini dibagi lagi air darat (hidrosfer) dan laut (oseanografi), fan bagian padat yang dikenal dengan geofisika. tetapi dulunya ketiga ilmu itu berasal dari satu nama yaitu geofisika. Dan yang akan dibahas sekarang ini adalah geofisikanya (bagian padat)…

Untuk mendukung ilmu geofisika tersebut maka ada ilmu lain yang berbarengan dengan geofisika tersebut selain KALKULUS, FISIKA yaitu Geologi (yang ini mah sering di denger ya????) Klo dalam perusahaan minyak dikenal dengan sebutan G&G or GGR (Geology, Geophysics, & Reservoir).. Untuk sekedar diketahui dengan ilmu geofisika inilah kita dapat “meneropong” isi bumi dari permukaan sampai inti bumi…

Dengan berlandaskan pada ilmu fisika dan didukung dengan ilmu kalkulus dan geologi maka seorang geofisikawan (baca geophysicist biar mudah) akan dapat mengetahui apa sih yang ada di bawah permukaan ini atau apa sih yang ada di dalam bumi kita ini..Baik dari yang dangkal ampe yang dalam….

Sebenarnya apa aja sih yang dipelajari oleh seorang geophysicist??? Yang dipelajari oleh seorang Geophysicist diantaranya ada bidang seismologi (yaitu all about earthquake), baik itu penyebabnya ampe prediksi yang ampe sekarang ini masih dikembangkan oleh para pakar (siapa yang pengen jadi profesor, kemungkinannya sangat besar nih !!!! HEHEHEH). Selain seismologi kita juga mempelajari
mengenai vulkanologi yaitu yang semua yang berhubungan dengan kegunungapian…Selain itu seorang geophysicist juga mempelajari mengenai semua methods yang dapat digunakan untuk eksplorasi baik itu minyak dan gas, batu bara, mineral dan barang tambang, air tanah juga. dan banyak lain aplikasi lainnya..

Metoda-metoda geofisika itu antara lain, metoda seismik yang sampai sekarang masih menjadi tools untuk mencari minyak dan gas bumi, selain itu metoda geolistrik yang bisa juga untuk eksplorasi oil&gas tetapi utk kedalaman yang dangkal, trus metoda gravitasi, metoda geomagnet, metoda Magnetotelluric (ini metoda baru juga nih). setelah itu metoda IP, misse ala masse, Self Potensial (yang masih ada kaitannya dengan geolistrik), Metoda VLF (ini juga dalam pengembangan nih), metoda GPR.

Dari semua metoda tersebut applikasinya dapat untuk, tadi utk eksplorasi oil&gas, mineral dan barang tambang, selain itu bisa juga untuk aplikasi ke bidang rekayasa seperti untuk teknik sipil, setelah itu juga bisa untuk pencarian air tanah dalam skala lebih besar, untuk ke bidang arkeologi juga bisa lho, trus untuk ke bidang lingkungan, geofisika juga bisa.

Mungkin itu aja dulu yang bisa saya share, semoga mudah untuk dimengerti. Insya 4JJI dilain kesempatan akan saya coba tuliskan untuk masing2 metoda dan bidang yang terkait dengan geofisika ini.. Klo ada yang mau nambahin juga ga apa2 kok…





Magnetic

8 10 2009

Magnetic SurveyMeasurements of the magnetic field or its components at a series of different locations over an area of interest, usually with the objective of locating concentrations of magnetic materials or of determining depth to basement. Differences from the normal field are attributed to variations in the distribution of materials having different magnetic susceptability and prehaps also remanent magnetization.

Source : http://galitzin.mines.edu

Metode magnetik didasarkan pada pengukuran variasi intensitas medan magnetik di permukaan bumi yang disebabkan oleh adanya variasi distribusi benda termagnetisasi di bawah permukaan bumi. Variasi yang terukur (anomali) berada dalam latar belakang medan yang relatif besar. Variasi intensitas medan magnetik yang terukur kemudian ditafsirkan dalam bentuk distribusi bahan magnetik di bawah permukaan, yang kemudian dijadikan dasar bagi pendugaan keadaan geologi yang mungkin. Metode magnetik memiliki kesamaan latar belakang fisika dengan metode gravitasi, kedua metode sama-sama berdasarkan kepada teori potensial, sehngga keduanya sering disebut sebagai metoda potensial. Namun demikian, ditinjau dari segi besaran fisika yang terlibat, keduanya mempunyai perbedaan yang mendasar. Dalam magnetik harus mempertimbangkan variasi arah dan besar vektor magnetisasi. sedangkan dalam gravitasi hanya ditinjau variasi besar vektor percepatan gravitasi. Data pengamatan magnetik lebih menunjukan sifat residual yang kompleks. Dengan demikian, metode magnetik memiliki variasi terhadap waktu jauh lebih besar. Pengukuran intensitas medan magnetik bisa dilakukan melalui darat, laut dan udara. Metode magnetik sering digunakan dalam eksplorasi pendahuluan minyak bumi, panas bumi, dan batuan mineral serta serta bisa diterapkan pada pencarian prospeksi benda-benda arkeologi.





Pengantar Gempa Bumi

8 10 2009

Gempa adalah pergeseran tiba-tiba dari lapisan tanah di bawah permukaan bumi. Ketika pergeseran ini terjadi, timbul getaran yang disebut gelombang seismik. Gelombang ini menjalar menjauhi fokus gempa ke segala arah di dalam bumi. Ketika gelombang ini mencapai permukaan bumi, getarannya bisa merusak atau tidak tergantung pada kekuatan sumber dan jarak fokus, disamping itu juga mutu bangunan dan mutu tanah dimana bangungan berdiri.

Dimanakah gempa terjadi ?

gempa2

Lapisan litosfir bumi terdiri atas lempeng-lempeng tektonik yang kaku dan terapung di atas batuan yang relatif tidak kaku. Daerah pertemuan dua lempeng atau lebih kita sebut sebagai plate margin atau batas lempeng, disebut juga sesar. Gempa dapat terjadi dimanapun di bumi ini, tetapi umumnya gempa terjadi di sekitar batas lempeng dan banyak didapat sesar aktif disekitar batas lempeng. Titik tertentu di sepanjang sesar tempat dimulainya gempa disebut fokus atau hyposenter dan titik di permukaan bumi yang tepat di atasnya disebut episenter.

Mengapa terjadi gempa ?

gempa3Lapisan paling atas bumi, yaitu litosfir, merupakan batuan yang relatif dingin dan bagian paling atas berada pada kondisi padat dan kaku. Di bawah lapisan ini terdapat batuan yang jauh lebih panas yang disebut mantel. Lapisan ini sedemikian panasnya sehingga senantiasa dalam keadaan tidak kaku, sehingga dapat bergerak sesuai dengan proses pendistribusian panas yang kita kenal sebagai aliran konveksi. Lempeng tektonik yang merupakan bagian dari litosfir padat dan terapung di atas mantel ikut bergerak satu sama lainnya. gempa4Ada tiga kemungkinan pergerakan satu lempeng tektonik relatif terhadap lempeng lainnya, yaitu apabila kedua lempeng saling menjauhi (spreading), saling mendekati(collision) dan saling geser (transform). Jika dua lempeng bertemu pada suatu sesar, keduanya dapat bergerak saling menjauhi, saling mendekati atau saling bergeser. Umumnya, gerakan ini berlangsung lambat dan tidak dapat dirasakan oleh manusia namun terukur sebesar 0-15cm pertahun. gempa5Kadang-kadang, gerakan lempeng ini macet dan saling mengunci, sehingga terjadi pengumpulan energi yang berlangsung terus sampai pada suatu saat batuan pada lempeng tektonik tersebut tidak lagi kuat menahan gerakan tersebut sehingga terjadi pelepasan mendadak yang kita kenal sebagai gempa bumi.

Kapan gempa terjadi ?
Gempa dapat terjadi kapan saja, tanpa mengenal musim. Meskipun demikian, konsentrasi gempa cenderung terjadi di tempat-tempat tertentu saja, seperti pada batas Plat Pasifik. Tempat ini dikenal dengan Lingkaran Api karena banyaknya gunung berapi.

gempa6








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.